Isi Jampanye Pilpres

APA ISI KAMPANYE ?

Tim Kampanye Pilpres sudah terbentuk, rayat disuruh mendengar, melihat dan menimbang sebelum masuk ke bilik suara.

Apa Isi Kampanye mereka?

Menurutku tidak jauh dari ini !
Kampanye Pilpres pasangan PETAHANA vs PENANTANG adalah seberapa beratnya isi bagian catatan buku yg dinaikkan ke atas timbangan.
1, Catatan Keberhasilan:
Petahana Isinya lebih berat catatan keberhasilan mereka dengan data valid vs Penantang Lebih ringan catatan keberhasilan mereka dengan data rekayasa .

2.Catatan Keburukan (kekagalan):

Catatan Petahana ttg keburukan penantang Isinya lebih ringan dalam kampanye vs catatan Penantang ttg keburukan petahana lebih berat dengan data salah campur fitnah

3. Catatan Program:

Catatan Petahana Isinya lebih ringan berupa melanjutkan program yang sudah ada + program jangka panjang yang dapat dijangkau vs catatan Penantang isinya lebih berat program indah-indah penuh wacana yang sulit dicapai .

Advertisements

Sepenggal Catatan Pengalaman Hidup

Sepenggal Catatan  Pengalaman Hidup

Saat kecilku aku telah dibekali teladan oleh ayah bagaimana kita berinteraksi antar manusia (human relation).
Kala itu ayahku sakit thn 1968 kelas 5 SD , ibuku menyuruh aku ke pasar membeli satu porsi bakmi kuah. Ayah memintaku makan duluan bersamanya tanpa menunggu ibu dan saudara saudaraku yang lainnya. Besoknya yg ibu suruh adekku, dan makan bersama ayah sebagaimana saya kemarennya. Besoknya lagi giliran adekku yang lain.

Setelah ayah sembuh bakmipun stop. Selanjutnya kami makan bersama lagi sebagaimana biasa dalam keluarga kami.
Saya memberanikan diri bertannya sehabis makan kenapa ayah selalu meminta anaknya yang membeli bakmi itu makan bersamanya.

Ayah tidak langsung menjawab malah bercerita:
Ada satu keluarga pejabat di kota, rumahnya Setiap harinya yang mempersiapkan dan memasak makanan di keluarga itu adalah seorang pembantu mereka. Namun kesehariannya si pembantu itu selalu belakangan makan setelah keluarga majikannya selesai semua makan. Begitulah setiap harinya si pembantu itu makan sisa-sisa keluarga tuannya dan kadang tidak cukup buat dia lagi bila ada tamu keluarga yang ikut makan hari itu.

Kasihan ya ibu itu ! kataku.
Adekku menimpali lagi , kejam kali keluarga pejabat itu pak ?
Ya, kejam. Ya, kasihan. Kata ayah melanjutkan ceritanya:

Pernah beberapa kali si pembantu itu disuruh majikannya membeli makanan seperti bakmi kemaren- kemaren yang kalian beli. Namun dalam perjalanan pulang dia membuka bungkus makanan itu dan meludahinya karena dia tidak pernah dibagi majikannya.

Si pembantu itu perasaannya tersakiti dan gondok, sampai menyimpan dendam untuk membalaskan sakit hatinya kepada tuannya.
Masakannya mulai di buat asal-asalan yang penting masak, dia tidak berusaha lagi agar masakannya enak. Karenanya setiap makan majikannya marah padanya karena makanan kurang enak.
Akhirnya si pembantu itu berjanji membuat masakannya enak, tapi sakit-hatinya bertambah  dan dendam kepada keluarga majikannya.
Saat dia memasak saat tidak di lihat nyonya rumah, si pembatu itu meludahi dan menaroh sedikit air  kotoran ke kuali tempat memasak. Kali ini keluarga msjikannya memuji masakannya karena enak tanpa disadari keluarga majikan bahwa makanan yang enak itu di capur air kotoran.
Bah, jahat kali pembantu itu pak, cepat-cepat aja dia itu di usir ! Kata adekku nada marah seakan tak rela keluarga majikan itu dijahati pembantunya.

Yia nak, pembantu itu sungguh besar dosanya. Walaupun majikannya tidak tau tapi Tuhan mengetahui perbuatannya. Jadinya yidak lama kemudian pembantu itu meminta berhenti dan pulang kampung. Di kampung dia sakit sakitan memikirkan perbuatannya yang jahat kepada majikannya.

Makanya nanti setelah kalian merantau dan tinggal di rumah orang ngak boleh ya seperti kelakuan pembantu itu.
Ya, jawabku serentak bersama adek adekku yang masih kecil seakan nantinya pasti dan yakin kami ini akan merantau.

Dan nanti bila kamu sudah berkeluarga dan mempunyai pembantu di rumah maupun sama bawahan di kantormu ngak boleh berkelakuan seperti majikan itu ya ! Seru ayah.
Ya pak, jawab kami serentak seakan kami nantinya sudah pasti berhasil dan kerja kantoran punya bawahan dan rumah besar.
Jadi entah siapapun yang berada di rumahmu dan teman kantormu kalian harus memperlakukannya sama seperti bagian dari keluarga kita.
Kami semua terdiam karena kurang menjangkau kalimat bapak yang diucapkan ini . . .

Selesai pendidikan dinas saya ditempatkan pertama kali di salah satu kapal negara di wilayah Sulawesi Bagian Utara pertengahan thn. 1978. Saya diangkat dalam jabatan tugas sebagai perwira elektronika (komunikasi) yang juga membidangi perbekalan di atas kapal. Soal menu dan makanan serta pekerjaan jenang, pemasak , pelayan adalah dibawah tanggung jawabku.

Yang pertama menjadi pusat perhatianku adalah mengamati bawahanku memilih menu makanan saat belanja, bagai mana mereka memasak dan menyajikan, seperti apa kebersihan alat alat di dapur dan di gudang perbekalan. Dari sinilah dilanjutkan langkah berikutnya untuk mengetahui kharakter orang per orang bawahan dalam bekerja kesehariannya serta hubungan mereka dengan orang orang seisi kapal maupun hubungannya dengan masyarakat luar.

Karena kami memakai uniform jadi sangat jelas kelihatan perbedaan antara bawahan dan atasan. Ruang tidur, ruang makan termasuk menu makanannyapun dibedakan. Kalau tantama dan bintara lauknya satu potong, perwira lauknya dua potong. Tantama tidak diperbolehkan makan sama-sama dengan bintara apalagi perwira.

Di ruangan makan perwirapun sangat kaku aturannya. Sebelum komandan memulai makan perwira lain tidak ada yang boleh memegang sendok makannya. Demikianpula kita tidak boleh beranjak sebelum komandan beranjak dari ruang makan perwira.
Edan pikirku, kok sampai seketat itu adatnya di kapal? Adat kolonial? Hati ini berontak.

Suatu hari aku sengaja turun ke ruangan tantama. Mereka sedang makan rame- rame. Begitu mereka melihat kedatanganku, semua pada meninggalkan makanannya tersipu-sipu mengenakan pakaian dinasnya. Saat itu saya berpakaian pdh, karena memang diwajibkan saat makan harus demikian. Saya mengambil piring untuk mencicipi makan bersama teman-teman tantama itu.
Eee, ada rupanya yang melaporkan. Besoknya saya diminta menghadap komandan. Komandan marah dan memberi hukuman berupa tegoran lisan dengan tuduhan melanggar aturan tata tertip makan. Dalam hati, aturan apa ya yang kulanggar? Bukan kah aku pergi makan ke ruangan tantama padahal bunyi aturan adalah larangan tantama makan di ruang makan perwira?

Hari hari berikutnya sebagai wujud protesku terhadap aturan yang tidak adil itu.Saya minta pelayan mengantar makananku ke kamarku saja dan tidak tidak makan bersama di ruang perwira.

Rupanya komandan kapalku tidak terima tindakanku ini, saya di laporkan ke komandan detasemen. Komandan detasemen dengan baik mendengarkan alasan tindakanku dan menerima permohonanku agar makanan di atas kapal tidak lagi dibeda-bedakan antara perwira, bintara dan tantama. Bukankah tubuh ini membutuhkan makanan yang sama buat seluruh manusia dan tidak ada sangkut pautnya dengan jabatan dan pangkat?

Tiba suatu hari pada saat makan bersama perwira lain entah kenapa seorang teman perwira marah marah kepada koki (tukang masak) hanya karena sepotong daging ayam goreng keras tak bisa dia gigit dan membuat hampir copot giginya .Ini kejadiannya setelah saya pindah ke kapal lain. Namun saya meminta temanku itu agar tidak marah kepada koki. Biarlah saya yang bicara dengannya sebab pekerjaan koki koki adalah tanggung-jawab saya.
Sudah, nanti menghadap saya di ruanganku, perintahku kepada koki dan dia meninggalkan kami.

Saya mencoba menenangkan teman teman perwira lain dengan mengawali kata kata warning (mrnakut-nakuti mereka) di dengan mengatakan diawal ” Bapak bapak yang terhormat . . . bila kita satu kapal tidak ingin makan kotoran jangan lah kita buat sakit hati koki dan pelayan itu”!

Mereka itu tidak bakalan berani melawan perintah di hadapan kita, tapi kita tidak bisa tau apa yang bisa mereka lakukan di dapur sana untuk menyakiti kita.

Aku memohon kepada para perwira dikala ada pekerjaan koki dan pelayan yang kurang berkenan agar menyampaikannya melalui saya.
Saya bersyukur teman-teman perwira lain memaklumi penjelasanku.

Setelah itu saya ajak koki dan pelayan ke ruanganku. Menasihati mereka agar takut sama Tuhan dan berharap tetap disiplin dan ikhlas bekerja. Saya meyakinkan mereka bahwa pekerja jujur dan ikhlaslah yang Tuhan berkati hidupnya dan keluarganya.

Setelah saya tidak lagi bertugas di kapal dan saat dipercayakan pimpinan dalam tugas fungsi pembinaan kepegawaian bidang Ship Human Relation. Orang yang bekerja diatas kapal harus diberi pengetahuan hubungan antar manusia di atas kapal. Maka modal pengalam-pengalaman saya bertugas di kapal mempermudah pekerjaanku selanjutnya. Semua orang yang bekerja dalam satu kapal harus merasa hidup dalam satu keluarga. Harus saling memperhatikan dan tidak boleh menyimpan rasa permusuhan aoalagi menyimpan dendam. Semua harus berpikir keselamatan bersama bukan memikirkan keselamatan sendiri. Semua harus disiplin melaksanakan tugasnya. Satu orang saja lalai semua akan celaka. Kelalaian satu orang olimen di kamar mesin dapat berakibat fatal satu kapal terbakar. Kelalaia satu orang juru mudi dapat berakibat fatal membuat kapal tabrakan , pecah lalu semua tenggelam.
Hei semua orang yang bekerja disini kekuatan mu bukahlah terletak di pucuk senjata-senjata itu, tetapi kekuatanmu tergantung seberapa baik hubunganmu dengan semua manusia-manusia yang bersamamu di atas kapal ini Disini satu berbuat untuk semua, semua berbuat jadi satu.

Pengalaman ini pula yg menempa kharakterku dan menerapkanya di semua organisasi yang ku ikuti.: ” Tidak melihat orang lain berada tinggi di atas dan tidak melihat orang lain berada rendah di bawah.”
Semoga ada mamfaatnya.
Horas !

Bekasi, 23 Juli 2018 (St.Mukhtar Lumbantoruan).

BALINTANG MA PA GABE

BALINTANG MA PAGABE TUMUNDALHON SITADOAN
ARINTA MA GABE MOLO MASIPAOLO-OLIAN

Umpasa ini pasti kita dengar dalam acara marhata hepeng (sinamot).

Balintang, artinya
kayu pengikat yang dipasang melintang.

Pagabe. artinya
mistar besar yang dipakai menetak benang waktu menenun.

Tumundalhon, artinya
Tidak berpaling ke belakang tapi menatap ke depan.

Sitadoan, artinya
sepotong kayu, pada mana penenun menekan kakinya, tempat kaki bertelekan, sej kuk penahan kaki penenun.

Gabe, artinya jadi, menjadi sesuatu. Na gabe dalam arti luas sejahtera dapat berkat keturunan, harta dan kemuliaan.

Masipaolo-oloan, artinya
Bersepakat saling menerima

maknanya pihak paranak dan pihak parboru mengesampingkan keinginan masing-masing untuk mufakat saling menerima agar terwujud ikatan keluarga bahagia merestui perkawinan anak mereka. Besar kecilnya SINAMOT tidak lagi dipermasalahkan karena marhata sinamot bukan seperti jual beli di pasar bila cukup ada uang angkat barang.
Paranak dan Parboru bersepakat dalam bentuk adat TARUHON JUAL ATAU DIALAP JUAL, besar atau jumlah undangan sesama pihak paranak dan parboru, urutan acara adat mulai sibuha-buhai, pemberkatan, pasahat dohot manjalo adat na gok.
Untuk lebih memahami Umpasa ini dalam mewujudkan proses upacara adat perkawinan orang Batak memang kelihatan rumit dan berteletele bagai ibarat bekerja membuat tenunan ulos batak agar tercipta sehelai kain ulos yang bermutu tinggi dan indah dipandang sesuai keinginan yang memakai.

Secara tradisional dimulai dengan pembuatan benang dari bahan kapuk (randu) atau kapas. Kapuk atau kapas dipilih, dipisahkan dari bijinya (mamipis), dan dikembangkan (mamusur). Kapuk atau kapas yang telah diolah dipintal menjadi benang (bonang), disebut mangganti.

Benang diwarnai dengan warna putih,merah dan hitam. Benang yang diwarnai dengan warna merah disebut proses manubar dan hitam disebut mangitom. Warna putih diperoleh dengan rendaman tano buro, tanah kapur; warna merah dari bahan batu hula, kunyit dan kapur; warna hitam dari daun salaon, arang tumbuhan nila dan harumonting. Pewarnaan dilakukan dengan marsigira yakni mencelup benang di aek harabu, direbus agar tidak luntur.Benang kemudian digulung (dihulhul) pada hasoli dan siap ditenun.

Proses bertenun dimulai dengan merancang ukuran ulos, menyusun benang sesuai dengan corak yang akan dibuat dengan alat yang disebut anian atau tudosan. Bertenun dilakukan di alaman di bawah nenaungan bayangan rumah dengan merentangkan susunan benang pada alat tenun tradisional. Satu disangkutkan ke kayu, dan bagian lain di punggung petenun dengan alat tundalan atau pamunggung. Benang disusun, dijalin dan dirapatkan satu persatu dengan balobas.

Sehubungan dengan proses yg membutuhkan ketekunan, kesabaran, ketelitian dan keuletan, dan memakan waktu bermingu-minggu tergantung corak dan variasi ulos, menempa karakter boru Batak yang tangguh menghadapi kehidupan berumah-tangga.

Dipataridahon proses pardalan ni adat i do holong na so marpambuat sian sude unsur DNT dht situan natorop merestui rumah-tangga ni na di adati.

Horas !
Bekasi, 16 Juli 2018 (St.Mukhtar Lumbantoruan).

CATATAN SAYA MENGIKUTI KONSULTASI NASIONAL HKBP

Beberapa Catatan saya saat mengikuti Konsultasi Nasional HKBP , Sopo Marpingkir 10 Juli 2018.

Sungguh indah persahabatan HKBP menyambut tamu-tamunya dengan tortor tradisional Batak serta pemberian Ulos dengan mengucapkan beberapa Umpasa Batak oleh Oppu i Ephorus
Pinaktikhon hujur ditopi ni Tapian, tudiape hamu mangalangka sai di lehon Tuhan ma parsaulian.

Kegiatan gerejani yg bernuansa budaya kita di ingatkan kembali bahwa HKBP tdk anti budaya Batak malah bagaikan dua sisi mata uang dalam satu bingkai dalam membangun kehidupan spritual orang Batak sehari-hari.

Hal senada di sampaikan amang K.H. Said Agil Siradj Ketua Umum NU yg diundang memberi pembekalan menceritakan pengalaman pribadinya yg puluhan tahun memperdalam ilmu agama di Timur Tengah namun tetap memelihara budaya leluhur. Beliau berpesan Biarlah kita mencari ilmu pengetahuan setingi-tingginya di negeri orang sana dan membawa ke dalam negeri tapi janganlah ikut-ikutan membawa budaya mereka yg belum tentu cocok dengan budaya bangsa kita sendiri.

Sama halnya apa yg di kwatirkan amang Ir.Soekirman Bupati Serdang Begadai. Beliau khawatir bahasa Batak lama-lama bisa punah disebabkan sdh banyak hata batak yg tidak dipakai lagi saat ini misalnya hata purik, mamduda bayon, anduri .
Amang ini Suku Jawa, berenya Panggabean agama Islam namun coba simak video, ini pemaparannya dalam hata Batak , tarombo batak, marumpasa Batak . Dia membuat tercengang ribuan orang Batak yg hadir dan beliau berharap HKBP tetap setia sampai akhir memakai bahasa Batak dalam ibadahnya. Mungkin juga karena rasa hormatnya kepada pendeta beliau menyebutnya beberapa kali Pangula na badia (pangula ni huria), yg mengundang tawa hadirin.

Amang Luhut Binsar Panjaitan berpesan agar HKBP bisa memaksimalkan potensi anak-anak muda mendatang terutama pada bidang pendidikan. Menjaga budaya kebersihan lingkungan Danau Toba dan peningkatan Rumah Sakit HKBP agar ngak perlu lagi orang Batak berobat ke Penang.

Sebelumnya amang Luhut awalnya menceritakan ciri khas orang Batak yang tidak pernah dendam meski berbeda pendapat. Rupanya amang ini juga tak luput meperhatikan gelagat-gelagat ketidak sejalanan para pimpinan HKBP.

Beliau bercerita bahwa dulu dia bersama Anis samasama tim sukses Jokowi.

Anies Gub.DKI tampak terus tersenyum.
“Saya senang bisa datang di acara HKBP. Saya mulai bertugas di Jakarta ini pada Oktober dan kegiatan pertama yang saya lakukan adalah meresmikan rumah ibadah. Rumah ibadah yang diresmikan itu adalah gereja HKBP,” kata Anies.

Demikian juga amang Merdeka Sirait menunjukkan kasus kasus KDRT termasuk kejadian- kejadian yg tidak jauh dari lingkungan warga HKBP. Korban- korban anak padaumummnya pelakunya adalah dari orang orang yg seharusnya melindungi anak itu sendiri.

Dan tak kalah pentingnya walau terahir saya tuliskan pesan amang Prof. DR. Otto Hasibuan.
Seyogianya kasus- kasus internal HKBP jangan dibawa ke ranah hukum positif. Sadar jugalah kita bahwa kita ini umat minoritas di negeri ini.
Beliau mungkin apa bercanda atau serius bertanya dalam forum,
Bila ada kasus yg aku bela dan aku yakin dia tidak bersalah, dan polisi, jaksa dan hakim juga berpendapat sipelaku tdk berbuat salah tapi tetap di tuntut dan di hukum. Aku sdh kalah membela yg benar karena tdk ada uang. Sebenarnya aku tau ada jalan memenangkan yg ku bela dengan bila aku memenuhi keinginan mereka. Nah aku bertanya di sini , berdosa kah saya bila memenangkan dengan cara memenuhi keinginan mereka atau memberi suap ? Saya sendiri tdk bisa memjawab kata amang pengacara hebat ini.

Aku sempat termenung dan mengingat satu lelucon pasien ibu yg saleh dan dokter yg merawatnya.
Pasien: Kenapa pak dokter yg terima bayaran? Saya yakin dan percaya bahwa Tuhanlah yg menyembuhkanku.
Dokter: yaa, saya tdk memaksa bu, kalau Tuhan mau datang menerima bayaran tdk apa-apa saya ngak perlu terima. hmmmm.

Demikian sedikit catatan saya dari Konsultasi Nasiinal HKBP, walau sangat saya sayangkan karena tak ada sesi tanya-jawab.Semoga ada gunanya . Horas
Bekasi, 11 Juli 2018
St Mukhtar Lumbantoruan.

MARSITIJUR TU LANGIT

*MARSITIJUR TU LANGIT MADABU DO I TU AMPUAN *

Artnya, meludah ke atas ludah itu akan jatuh juga ke pangkuan sendiri.

Cerita ini adalah cerita nyata di kampungku waktu itu saya masih anak anak. Kejadian yang menggambarkan Umpama Batak “Marsitijur tu langit, madabu tu ampuan”.

Dua orang yang bertetangga sering berantam. Yang satu bapak-bapak dan yang satu lagi ibu-ibu. Mereka mariboto satu ompung, yang bapak-bapak berposisi hula-hula yang ibu-ibu berposisi boru.

Suatu ketika persoalan mereka memuncak dan sibapak mengadukan si ibu kepada Raja Huta meminta agar di adili secara adat agar si ibu di usir keluar dari kampung itu. (Asa di paulak ina ina i ).

Apa respon para Raja Huta?
Bah, bodoh kali kamu ini jadi orang Batak, mau di paulak ke mana , kau juga hula-hulanya. Elek ho mar boru asa somba borum tu ho. Unang ho marsitijur tu langit, ai mulak do tijurmi tu ampuanmu.

PODA UMPAMA

*TUIT SITARA TUIT TUIT PANGALAHONA, MOLO TUIT BORU I MAGO IBOTONA*

Bertingkah pamer , sifat perilaku memoles penampilan. Bila ada sifat anak gadis Batak demikian, alamat membuat susah saudara laki-lakinya.

Tuit artinya: suka pamer, bertingkah, lente, perlente, orang yang berpakaian bagus-bagus. panguituiton, orang yang ingin memamerkan dirinya.

Maknanya:
Perempuan yang suka bertingkah pamer dengan penampilan make up , berpakayan dan perhiasan menyolok, suka mejeng untuk menarik perhatian orang  dapat mengundang orang lain berbuat jahat. Perempuan yang berpenampilan tuit suka digodain laki laki hidung-belang,  dekat ke jurang masalah  pelecehan , pencopetan maupun penodongan.

Bila sudah ada masalah pasti saudaranya laki-laki (ibotonya atau hula-hulanya) yang akan repot atau menanggung malu .  Kenapa harus Ibotonya yg kena imbas?  Itulah salah satu pertanggung jawaban hulahula na elek marboru di habatahon.

Perempuan Batak jadilah  Boru ni Raja, na donda,  serep, porman, pantun.

Donda (lembut, tak banyak berbicara, sikap merendah tapi berwibawa.)

Serep ( rendah hati, tidak sombong)

Porman (suci, saleh, sopan, takwa.)

Pantun (santun, ramah tidak kasar)

PODA UMPAMA

*MATA GURU ROHA SISEAN*

Yang dilihat Mata menjadi sumber pengetahuan , simak dan renungkan dalam hati. 

Mata adalah pancaindera utama untuk dapat mengetahui sesuatu. Namun untuk mempertimbangkan baik buruk, berguna atau tidak berguna, kita contoh atau kita lupakan yang kita lihat itu,  kita bertanya kepada hati nurani kita sendiri sebagai tuntunan mengambil sikap dan berbuat.

Lam ganjang dalan binolus lam deak do na binereng, lam bahat ma na niantusan. 

Semakin panjang yang dilewati , semakin banyak yang kita bisa lihat semakin banyak pula yang kita ketahui.